IndeksFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
YM Support
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
June 2018
MonTueWedThuFriSatSun
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930 
CalendarCalendar
Latest topics
Link Partner
XEMARKETS
OctaFX

Share | 
 

 "CATATAN TEMANKU"

Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin
avatar

Jumlah posting : 62
Join date : 05.01.13
Age : 30
Lokasi : Bantaeng

PostSubyek: "CATATAN TEMANKU"   Sun Jan 13, 2013 4:32 am

"CATATAN TEMANKU"
BY: Hamsir Jaelani

Membuk Folder lama yang terletak di Partition D:/ disan terdapa catatn My history. Dulu ketika itu, aku bersam Hamjal, janjian untuk menulis minimal 1 lembar perhari. dan catatn aku masih dalam buku catatn harian yang masih bertuliskan tinta pulpen.

Berbeda dengan Tulisan HAmJal seperti yang terlihat. semua uda dalam ketikan, computer lama. aku coba mengankat dari file yang hilang dari partisi Hardisk yg uda terformat. perjuangan merecover selama 7 jam ternyata semua file yang terformat sejak dahulu semua kembali. dan aku menemukan dokumen sepertidalm postinganku ini.....

"Pagi begitu cerah ketika aku terbangun dari tidurku, hari ini aku terlambat bangun tidur gara-gara semalam ikut nonton film horor di rumah tetangga atau tepatnya dirumah Omku hingga dinihari. Jam 04.45 dinihari filmnya baru usai, akhirnya aku sholat subuh dulu lalu star untuk melanjutkan tidurku yang sempat tertunda tadi malam.
Bangun terlalu pagi yang menurutku hampir kesiangan adalah salah satu kebiasaan kurang baik bagi pemuda sepertiku ( akh...boro-boro jadi pemuda, memasuki remaja awal maksudku ). Waktu itu masyarakat di kampungku sedang sibuk-sibuknya memetik atau memanen hasil bumi mereka masing-masing. Masyarakat di kampungku adalah mayoritas petani kopi tumpang sari, yah..aku sebut demikian, karena petani di kampungku nyaris menanam segala jenis tumbuhan penyandang dalam satu lahan, sehingga tanaman banyak yang kerdil atau malah ogah memberikan hasil. Sosialisasi pemerintah saat itu pun belum mampu menyentuh pelosok desaku dan kalaupun ada, masyarakat belum tentu tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut dan kalaupun ikut belum tentu menyerap sajian materi sosialisasi ilmu pertanian yang di sampaikan. Begitulah kira-kira pemahamanku tentang masyarakat di kampungku yang begitu awam dalam memahami ilmu pengetahuan.
Hari itu, akupun telah genap berumur 17th versi Pak Hanafi, di tahun 2003-2004 waktu itu. Umurku memang memiliki dua versi, Ibuku mengatakan jika umurku saat itu 15 tahun terhitung sejak 1989-4-April, dan aku anggap itulah yang akurat. Tapi versi Pak Hanafi lain lagi, sejak aku mendaftarkan diri di sekolah dasar 59 Labbo ( SD 59 ), maka usaiku pun bertambah dua tahun lebih tua dari sebelumnya, alasannya cukup klasik, usaiku belum genap untuk bersekolah dan harus menunggu dua tahun lagi. Akhirnya karena aku tetap ngotot untuk bersekolah, maka Pak Hanafi yang waktu itu adalah kepala sekolah memberi solusi agar umurku di tambah dua tahun saja dari 04-April 1989 menjadi 05 Juni 1987, dan akupun berkata “Terserah bapak sajalah”. Pikiranku waktu aku itu adalah sekolah & sekolah meski umurku harus di tambah dua tahun lebih tua. Setelah urusan administrasi selesai semua resmilah aku menjadi siswa atau pelajar di SD 59 Labbo.
Tak terasa waktu merambat demikian cepatnya, masa-masa SD telah lama aku tinggalkan dan tak banyak pula yang bisa aku ceritakan tentang masa-masa tersebut. Kini genap sudah tiga bulan aku tamat sekolah di Madrasah Tsanawiyah ( MTs. ) di Pattiro yang menurutku menyimpan kenangan yang begitu banyak, baik suka maupun duka.
Setamat sekolah, setelah ujian akhir Sekolah dan ujian akhir Nasional usai, akupun langsung menuju Makassar bersama sepupuku dengan harapan mengais rejeki dengan menjadi buruh kasar di beberapa proyek bangunan milik orang-orang kulit kuning ( Baca; CHINA ), waktu itu. Ini adalah kali kedua aku ke Makassar setelah dulu hanya dua minggu berada di Makassar, waktu itu aku masih duduk di kelas dua MTs, dan kali ini aku dua bulan lamanya setelah hampir satu minggu aku belum dapat pekerjaan. Akh.....sungguh kasihan aku waktu itu.
Beberapa bulan kemudian, setelah kembali dari Makassar paradigmaku tentang hidup berubah drastis, selain tubuhku bertambah agak besar karena waktu di Makassar aku berlangganan dua penjual bakso. Sehingga hampir dua bulan penuh aku bisa makan bakso sampai tiga kali sehari semalam, sebuah kebiasaan yang sangat kontras dengan aku dua bulan yang lalu. Pandangan dan harapanku tentang hidup waktu itupun berubah sampai 80 derajat kebawah titik nadir akal sehat, aku anggap hidup hanya akan lebih bahagia, lebih dihargai, dihormati hanya jika kita punya banyak duit dan akupun bertekad dalam hati untuk mencari uang sebanyak-banyaknya tak peduli tanganku membesar dan melepuh asalkan aku dapat duit, pikirku dalam bathin.
Setelah aku pikir matang-matang dengan pertimbangan akalku sendiri, akhirnya akupun berkesimpulan, aku tak mau melanjutkan pendidikanku lagi, aku pikir tamat MTs, sudah cukup untukku, lagipula aku sudah mulai tidak berminat dengan yang namanya belajar, sungguh !!! pikiran yang sangat konyol.
Penerimaan siswa-siswi baru di Madrasah Aliyah Pattiro ( MA. ) sudah berlangsung dua bulan, acara ta’aruf dengan sesama siswa ( i ) mulai hangat dan akrab, baik antara senior maupun junior. Musdalifah, Usman dan beberapa sahabat-sahabatku di MTs dulu, mulai mempertanyakan keberadaanku, apakah aku masih lanjut sekolah atau tidak??. Sebuah pertanyaan yang tidak perlu aku jawab, karena teman-temanku sudah sangat hapal jawabannya, dengan hanya melihat kondisiku dan kondisi keluargaku yang termasuk jajaran kaum “Dhu’afa” kaum proletar ekonomi, miskin harta yang hanya bisa tetap bertahan hidup jika tetap menjadi buruh kasar di beberapa proyek yang membutuhkan tenaga. Tapi, kami sekeluarga meskipun bukanlah termasuk keluarga yang sok relijius, tetap mengedepankan ajaran agama bahwa biarlah tubuh tersiksa mencari rejeki asalkan rejeki tersebut halal dan baik, demikian kata-kata pak Ustas tempo hari saat berkhutbah jum’at.
Selang waktu berjalan, pikiranku pun semakin menyusut dan berjalan lamban, keinginanku untuk tidak bersekolah sudah aku sampaikan kepada Ibuku dan Ibuku menanggapinya dingin dengan seulas senyum penuh tanda tanya atau mungkin juga kasihan melihat kondisiku, lalu beliau berkata “ terus kamu mau jadi apa?” tanya Ibuku, “ aku sudah tidak berminat sekolah bu, lebih bagus cari duit, jika banyak duit mau apa saja pasti bisa” jawabku waktu itu. Ibuku tidak bicara apa-apa lagi, beliau hanya membathin dan segera meneruskan melipat pakaianku & akupun segera bangkit untuk menemui Omku yang datang bertamu dirumah.
Musim panen raya kopi waktu itu sudah mulai memasuki titik ending, kebunku yang hanya sekian meter luasnya lebih duluan selesai dibanding tetangga-tetanggaku yang memiliki berhektar-hektar tanah. Jadi, meskipun rata-rata kebun di kampungku ditanami secara tumpangsari oleh petani, tetapi hasilnya tetap banyak karena luas lahan mampu menutupi tanaman yang kerdil dan ogah memberi hasil.
Akhirnya musim panen kopi telah usai, rata-rata orang dikampungku kini sibuk menjemur kopi mereka masing-masing. Waktu itu aku lebih banyak nganggur dengan menghabiskan waktu dirumah saja, tak ada aktifitas yang berarti menurutku. Ibuku cukup terkenal dengan kue hasil olahannya, yah ! meskipun hanya terkenal sebagai penjual kue keliling tapi cukuplah untuk kami syukuri. Disamping itu, Ibuku mulai bingung memperhatikanku yang setiap hari hanya nganggur, karena yang dikhawatirkan Ibuku adalah jangan sampai aku ikut arus dengan kondisi lingkungan yang memang waktu itu cukup mengkhawatirkan bagi sebagian orang tua dan termasuk Ibuku adalah orang yang sangat takut jika aku tidak sekolah maka akupun akan sama dengan pemuda pada umumnya. Oleh sebab itu, Ibuku berfikir keras bagaimanapun caranya aku harus sekolah karena beliau kenal betul bagaimana jadinya nanti jika aku tak bersekolah. Ibuku pernah berkata “ Nak, !! kamu hanya akan lebih baik jika melanjutkan pendidikanmu dulu, untuk urusan cari duit nantilah setelah kamu tamat sekolah, lagipula Ibu masih bisa menghidupi kalian meskipun harus hidup bermiskin-miskin dan serba tak berkecukupan ”. Aku hanya menanggapi kata-kata Ibuku dengan senyum tak bermakna.
==============================
Setamat sekolah, setelah ujian Nasional dan ujian akhir Sekolah usai akupun langsung menuju kota Makassar bersama sepupuku dengan niat & harapan mengais rejeki, menjadi buruh kasar di beberapa proyek bangunan milik orang-orang China waktu itu. Ini adalah kali kedua aku ke Makassar meski dulu hanya dua minggu waktu aku masih duduk di kelas dua Mts. & kali ini aku dua bulan lamanya setelah hampir satu minggu tidak dapat pekerjaan. Akh...sungguh kasihan aku waktu itu.
Beberapa bulan kemudian, setelah kembali dari Makassar paradigmaku tentang hidup berubah drastis, selain tubuhku berubah menjadi lebih besar karena di Makassar aku punya dua langganan penjual bakso sehingga dalam dua bulan hampir tiap hari aku makan bakso tiga kali sehari semalam, sebuah kebiasaan yang sangat kontras dengan aku dua bulan yang lalu. Pandangan dan harapanku tentang hidup waktu itu pun berubah 80 derajat kebawah titik nadir paling bawah, aku anggap hidup hanya akan lebih bahagia, lebih dihargai, dihormati hanya jika kita memiliki banyak uang dan akupun bertekad dalam hati untuk mencari duit sebanyak-banyaknya tak pandang tanganku harus membesar dan melepuh dengan tajamnya kerikil dan batu merah. Intinya aku mendapatkan uang, pikirku dalam bathin.
Setelah aku pikir matang-matang maka akupun berkesimpulan, aku tak mau lagi melanjutkan pendidikanku, aku pikir tamat MTs, sudah cukup untukku. Lagipula, aku mulai tidak berminat dengan yang namanya belajar, sungguh pikiran yang sangat konyol.
Penerimaan siswa ( i ) baru di Madrasah Aliyah Pattiro sudah berlangsung dua bulan, ta’arufan antar siswa mulai hangat dan akrab, baik antara junior maupun senior. Musdalifah, Usman dan beberapa sahabat-sahabatku dulu di MTs, mulai mempertanyakan keberadaanku, apakah aku masih mau lanjut bersekolah atau tidak, bahkan ada kabar yang beredar kalau aku akan pindah ke sekolah lain, he..he..pindah kemana, untuk tetap bersekolah di kampung sendiri saja aku sudah kewalahan dengan biaya, apalagi kalau harus pindah sekolah dan harus siapkan biaya tiap hari untuk transportasi, aku sangat yakin kalau pindah adalah hal yang sangat mustahil.
Pertanyaan-pertanyaan teman-temanku sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang tidak mesti aku jawab, sebab mereka semua sudah sangat menghapal dan paham kondisiku dan kondisi keluargaku yang termasuk dalam jajaran kaum “dhu’afa” yang miskin harta alias kaum proletar ekonomi yang hanya bisa tetap bertahan hidup apabila tetap menjadi buruh kasar di setiap proyek bangunan yang masih membutuhkan tenaga. Tetapi kami sekeluarga, meskipun bukanlah masyarakat relijius, tetapi kami tetap menjunjung tinggi ajaran agama bahwa meskipun fisik tersiksa mencari rejeki asalkan tetap halal dan baik sesuai tuntunan agama nabi kita, demikian kata pak ustas beberapa hari yang lalu saat berkhutbah jum’at.
Selang waktu berjalan pikiranku pun semakin berjalan lamban dan apatis, keinginanku untuk tidak bersekolah sudah aku sampaikan kepada Ibuku dan beliau menanggapinya dengan dingin, seulas senyum penuh tanda tanya tersungging di bibirnya, beliau lalu berkata “ Terus kamu jadi apa..? “ tanya Ibuku, “ aku sudah tidak berminat sekolah bu, lebih baik cari duit, jika banyak duit mau apa saja pasti bisa “ jawabku waktu itu, & Ibuku tidak bicara apa-apa lagi, beliau hanya membathin sambil terus melipat pakaianku yang rata-rata sudah mulai lusuh ditelan waktu dan akupun segera bangkit untuk menemui Omku yang datang bertamu dirumah, sepupu almarhum Ayahku.
Musim panen raya kopi waktu itu sudah memasuki titik ending, kebunku yang hanya se-/10 hektar lebih duluan selesai di panen dibanding tetangga-tetanggaku yang memiliki berhektar-hektar tanah. Jadi, meskipun rata-rata kebun di kampungku ditanami secara tumpangsari hasilnya tetap banyak karena luas lahan mampu menutupi tanaman yang kerdil dan ogah memberikan hasil bagi petani.
Musim panen kopi telah usai, kini rata-rata masyarakat dikampungku sibuk menjemur kopi mereka masing-masing. Waktu itu aku lebih banyak nganggur dan menghabiskan waktu dirumah saja, tak ada aktifitas yang berarti menurutku. Ibuku waktu itu cukup sibuk dengan menjual kue keliling rumah hasil olahannya sendiri. Ibuku cukup terkenal dengan kue hasil racikan tangannya itu. Yach..meskipun hanya terkenal sebagai penjual kue keliling tapi menurutku cukuplah untuk di syukuri. Disamping itu, Ibuku mulai bingung memperhatikanku yang setiap hari hanya nganggur, sebenarnya yang paling dikhawatirkan Ibuku adalah arus pergaulan anak muda sebayaku yang banyak terjebak pergaulan bebas yang melabrak tatanan dan kebanyakan menjadi penyakit sosial. Hal ini, adalah sesuatu yang wajar dimana kondisi lingkungan dimana aku bertempat tinggal cukup mengkhawatirkan bagi sebagian orang tua, dan termasuk Ibuku adalah adalah orang yang sangat takut jika aku tidak sekolah maka akupun akan ikut arus pergaulan anak muda yang memiliki prinsip sepertiku bahwa sekolah itu hanya buang-buang tenaga dan waktu, sebab sekolah tidak bisa menghasilkan uang.
Oleh sebab itu, maka Ibuku berfikir keras bagaimanapun kondisinya aku harus tetap melanjutkan sekolahku, karena beliau kenal dan paham betul bagaimana jadinya nanti jika aku tidak bersekolah. Suatu hari Ibuku pernah berkata kepadaku, “ Nak !!, kamu hanya akan lebih baik jika melanjutkan pendidikanmu dulu, untuk urusan cari uang nantilah setelah kamu tamat sekolah, lagipula Ibu masih bisa menghidupi kalian meskipun harus hidup bermiskin-miskin dan serba tidak berkecukupan “. Aku hanya menanggapi kata-kata Ibuku dengan senyum tak bermakna. Jauh dilubuk hatiku yang paling dalam berkata “ bu, hidup hanya akan lebih baik jika kita punya uang yang banyak, pendidikan tidak bisa menjamin dan tidak jaminan yang jelas agar kita bisa kaya “, bathinku waktu itu. Sebuah pandangan hidup yang menurutku punya alasan yang jelas, meskipun terkadang di tolak logika rasionalku sendiri. Akupun sepenuhnya sadar, bahwa keputusanku ini bukanlah keputusan yang benar, tapi bagiku uang adalah segalanya...
Suatu hari, aku berjalan-jalan ke rumah salah seorang temanku yang waktu itu adalah kakak kelasku, dua tahun diatasku. Akupun menceritakan semua keputusanku untuk tidak bersekolah lagi, aku menyampaikan alasan-alasanku untuk tidak lanjut sekolah, apalagi kalau bukan alasanku yang cukup klasik, mau segera cari uang. Temanku hanya menatapku dalam-dalam seolah-olah ingin berkata “ Trus kalau uangmu banyak, kamu mau jadi apa?? “, aku tak peduli dengan tanggapannya yang dingin kepadaku. Temanku memperbaiki posisi duduknya sambil menenteng sebuah buku yang aku kira itu adalah kitab suci keduanya setelah Al-Qur’an, sambil bertanya “ kamu serius “ ? iyya, aku serius, jawabku sekenanya. Temanku dengan gayanya yang sok menggurui lalu berkata “ kamu sakit kawan “. Yah !! aku memang sakit, menurutku kemiskinan adalah sebuah penyakit yang harus segera aku sembuhkan dengan cara menjauhinya. Pikirku dalam bathin.
Beberapa menit kami terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba temanku langsung berkata “ kamu terkena penyakit KESADARAN EKONOMI dini kawan, sebuah penyakit yang sering mendatangi pemuda labil macam kamu “. Secara sadar memang harus kuakui bahwa aku benar-benar terkena penyakit tersebut, selain usaiku yang masih terlampau sangat muda, secara bodypun meski sedikit lebih besar dari beberapa bulan yang lalu tapi kebanyakan orang masih menganggapku sebagai anak buah timur. Maka, sangatlah wajar jika temanku berkata kalau aku sakit, sakit yang menurutku aneh, unik dan langka.

Setelah beberapa hari berlalu, perbincangan dengan temanku tempo hari yang menohok dan melukai visi dan misi hidupku mulai menghantui pikiranku. Akhirnya, aku putuskan untuk tidak berurusan dengannya untuk sementara waktu, karena kuanggap bicara dengannya tak memberiku solusi. Benar sekali kata-kata orang bijak, bahwa jika kita bergaul dengan orang berpendidikan maka pasti kita akan di ajak agar memiliki persepsi hidup yang sama, sok cerdas, innonce, dan segalanya yang berkaitan dengan dunia pendidikan, begitupun sebaliknya, jika kita banyak-banyak bergaul dengan masyarakat yang tak pernah mengenal dunia pendidikan, maka sudah pasti hidup kita akan sangat tidak berarti dan tidak terarah. Demikianlah kira-kira anggapan orang-orang berpendidikan yang justeru mereka juga adalah masyarakat yang sangat berandil besar membuat negara kita ini semakin bobrok.
Pada suatu pagi, seperti biasanya Ibuku sangat sibuk dengan aktifitasnya sebagai penjual kue keliling. Saat Ibuku pulang, tidak seperti biasanya, beliau biasanya langsung menuju dapur untuk memasak. Tapi kali ini, Ibuku berjalan mendekatiku dan menyodorkan sesuatu yang terbungkus dengan kertas koran. Sambil berujar “ ambil itu nak ! kamu harus lanjut sekolah “. Aku bergeming, sambil menatap dalam-dalam bingkisan tersebut tanpa berani menyentuhnya sedikitpun. Aku mulai berfikir dengan keyakinanku yang seolah kubuat-buat, “ ini pasti seragam sekolah “ pikirku dalam bathin. Tapi, dimana Ibuku mendapatkannya, bukankah hari ini bukan hari pasar... akh pikiranku kalut di lilit kebingungan yang tak bermuara. Belakangan aku tahu, kalau seragam tersebut berasal dari tetanggaku yang berhenti sekolah karena secara kebetulan dia memiliki persamaan paradigma denganku tentang sekolah, bedanya, karena walaupun dia tidak berhenti sekolah kebutuhan ekonominya pasti akan terpenuhi sebab orangtuanya adalah pengusaha kayu yang cukup sukses dikampungku. Sedangkan aku, hanyalah anak seorang penjual kue yang untuk jajan sehari-hari saja aku harus menunggu berbulan-bulan baru dapat jatah, itupun kalau ada, tapi kalau tidak yah harus gimana lagi, aku harus puasa dulu untuk jajan.
Seiring waktu merambat, meninggalkan jejak tak berbekas, akhirnya Ibuku berhasil meyakinkanku untuk kembali bersekolah. Meski dalam bathinku, aku sama sekali tidak tertarik dengan keputusanku ini. Tetapi, demi menghargai orangtua dan juga aku tidak ingin dianggap sebagai bocah tengik yang durhaka kepada orang tua, maka, konsekwensinya aku harus menjalani keinginan orangtuaku & menunda dulu keinginanku unutuk menimbun puing-puing ekonomi.

Masih sangat pagi sekali aku terbangun dari tidurku sejak semalam aku tidur lebih cepat dari biasanya, karena hari ini aku akan kembali menginjakkan kaki dalam dunia pendidikan yang menurutku hanya menjanjikan berbagai kepalsuan dan kesimpangsiuran jika dijalani. Begitulah kira-kira anggapanku tentang sistem pendidikan yang ada di indonesia saat itu.
Aku masih duduk termenung saat kakakku yang perempuan membuyarkan renunganku dan berkata “ mandi mako cepat aco’, banyakmi teman-temanmu yang sudah berangkat “!! Akupun bergegas untuk mandi dengan lagak sok semangat untuk ke sekolah, kakakku lebih duluan berangkat karena ada PR yang mesti di kumpul pagi-pagi. Waktu itu, kakakku sudah duduk di kelas tiga aliyah.
Setelah mandi akupun segera memakai seragam sekolah yang di beli Ibuku yang ternyata kebesaran dengan ukuran bodyku. Celana tersebut harus aku pakaikan ring besar agar pas dengan ukuran pinggangku yang terlalu ramping, ramping yang aku maksudkan adalah karena aku sebenarnya perus alias pendek dan kurus. Hmm... pasti karena kurang gizi yang seimbang tuh...Kasihan !!
Saat mentari mulai menyusup diantara awan-awan kelabu menggeser pagi mendung menjadi cerah dan menampakkan langit biru diangkasa luas. Burung-burungpun bernyanyi riang beterbangan di antara pohon-pohon rindang tatkala sang raja hari tak canggung lagi menampakkan wajahnya kepada dunia. Hari kamis, hari ini adalah hari kamis, hari lahir aku. Ibuku berharap-harap cemas agar aku segera berangkat sekolah, Ibuku berkeyakinan bahwa hari lahir adalah hari paling baik untuk memulai segala kegiatan.
Jam 07.45 akupun berangkat menyusuri jalan yang mulai kering diguyur panas mentari pagi menuju sekolahku yang kira-kira bisa aku tempuh sekitar 15 menit. Awalnya aku menunggu sahabat Mtsku yang bernama Usman, karena aku masih merasa canggung untuk berjalan sendirian ke sekolah, apalagi dibalut dengan seragam yang menurutku masih sangat asing denganku. Sambil menunggu, kakakku yang bernama Kamaruddin bertanya “ kenapa na belumpako berangkat ?? “. “ kutunggui dulu Usman “ jawabku. Ibuku mendengarku bicara dan langsung berkata “ dari tadiji itu na berangkat Usman nak “ kakakku ikutan menimpali “ iyya, anu tadi mintongji itu na lewat kuliat, sama Making “. Sebenarnya aku gak percaya-percaya amat dengan kakakku karena dia termasuk pembual dan pembohong nomor wahid dirumah dan dikampungku, tapi karena Ibuku yang bilang maka akupun percaya.
Jam 08.25, akupun tiba di sekolah, lebih lambat dari perkiraanku sebelum berangkat. Teman-teman kelasku pada asyik dengan kesibukannya masing-masing. Saat aku masuk kelas, ada yang kejar-kejaran kayak anak TK, ada yang lagi asyik ngobrol dengan lawan jenisnya, belakangan aku tahu kalau itu adalah orang yang lagi pacaran. He..he..maklum belum kenal istilah gituan, ada juga yang lagi duduk murung gara-gara di gangguin terus oleh salah seorang temanku yang memang terkenal bandel bin nakal satu sekolah. Namanya Iqbal, dia memiliki geng “ AMBURADUL “ ( Anak Malas, bura’ne rantasa dungu pula ), selain mereka malas dan dungu, mereka juga jagoan merokok. Pernah suatu hari, saat guru bahasa arab lagi mengajar di kelas yang terkenal sebagai guru killer, mereka malah asyik merokok disamping kelas. Tak ada yang berani menegur mereka.
Ahmad, salah seorang sahabatku sejak dari SD hingga sekarang langsung menjumpaiku saat ia tahu aku ada di sekolah. “ Hei... aduh ! kenapa na lama sekali baru pergiko sekolah, kukira pindahko beng ?, tanya Ahmad dengan sangat antusias. “ akh...tidakji, cuma tidak mauka ikut M.O.S ( Masa orientasi siswa ), jadi ke sekolah aku tunda dulu, jawabku sekenanya. Pas sekali jawabanku, Ahmad sudah tidak melanjutkan pertanyaannya, selain Ahmad bukan tipe orang yang banyak bicara, dia pun langsung mengajakku ke bangkunya alias bangku kami berdua, bangku tersebut selalu berada di posisi kedua paling belakang, memberikan tanda bahwa kami berdua adalah orang yang sangat pemalu sekaligus memiliki otak yang sangat standar serta memiliki wajah di bawah standar pula, sehingga kami berdua tidak memiliki kepercayaan diri sedikitpun untuk duduk di bangku paling depan. Akupun mulai berbicara berbagai macam topik dengan Ahmad. Akan tetapi, Ahmad sama sekali tidak menampakkan ketertarikan dengan apa yang sedang aku bicarakan, belakangan aku tahu kalau Ahmad jago main gitar dan dia akan sangat antusias jika topiknya adalah seputar musik. Ahmad memang sangat menggandrungi bidang ini, terbukti dengan kemampuannya memainkan berbagai alat-alat musik, seperti keyboard, gitar, drum, hingga aku sebagai sahabatnya harus mencari dan mencuri informasi seputar musik dari berbagai sumber bak wartawan yang dikejar deadline berita. Hal ini aku lakukan agar Ahmad bisa tetap nyambung jika berbicara dengan aku. Terkadang informasi yang aku dapat jauh lebih banyak dan lebih up-date dibanding informasi yang diketahui Ahmad tentang musik. Sayangnya aku sama sekali tidak bisa menyanyi dan memainkan salah satu alat-alat musik yang sering dimainkan oleh Ahmad. Jika aku iseng-iseng ikutan bernyanyi jikalau Ahmad lagi main gitar, maka teman-temanku pasti akan segera sakit perut, sakit perut bukan karena lagi mencret atau diare, tetapi karena suaraku sumbang dan lucu katanya. Apalagi jika aku berhadapan dengan salah satu alat musik yang bernama gitar, akh... alat ini akan sangat kesulitan bersahabat jika sedang berhadapan denganku.
Sembari aku dan Ahmad lagi asyik berbincang-bincang, tiba-tiba salah seorang temanku yang bernama Iwan berteriak “ Masuk “, kamipun segera memperbaiki posisi duduk yang tadinya tidak teratur. Pak guru masuk ruangan dan langsung menyapa kami semua dengan salam “ Assalamu’alaikum wr.wb adik-adik “. Waalaikum salam wr.wb, kami menjawabnya dengan serentak bak anak TK yang bergembira karena akan kebagian pensil dan buku gambar baru. Yang paling kontras dalam ruangan tersebut adalah aku, selain aku baru masuk sekolah seragamku yang meskipun corak dan warnanya sama akan tetapi sangat berbeda dengan teman-temanku yang berseragam serba baru. Aku bagaikan murid sekolah yang sangat malas naik kelas jika berada diantara teman-teman kelasku. Apalagi dengan sepatu kakakku yang membalut kaki mungilku dengan santainya bertengger bak bongkahan batu gunung yang merapat ke bumi. Sepatu kakakku sangatlah besar, kakiku hanya pas dengan ukuran 21 cm waktu itu, sementara sepatu kakakku berukuran 32 cm, berarti 11 cm akan melompong kedepan dan kakiku akan leluasa bergerak bebas dalam ruang sepatu tersebut. Maka, akupun harus mengikatnya kuat-kuat agar kakiku bisa tetap bertahan dalam balutannya ".
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://jemarita.topgoo.net
 
"CATATAN TEMANKU"
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
JemaritaTopGo Forum :: News Room :: Coretanku & Artikel-
Navigasi: